Jakarta — Program Studi Magister Pendidikan Anak Usia Dini (MPAD), Sekolah Pascasarjana, Universitas Terbuka, menyelenggarakan International Webinar MPAD bertajuk “Comparative Perspectives on Early Childhood Education and Inclusive Education in Finland, Germany, and Philippines”. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional mengenai praktik pendidikan anak usia dini serta pengembangan pendidikan inklusif di tiga negara, yaitu Finlandia, Jerman, dan Filipina.
Webinar ini menghadirkan tiga narasumber yang berbagi perspektif berdasarkan pengalaman dan praktik pendidikan di negara masing-masing, yaitu Dr. Minna Makihonko dari Finlandia, Vicky Natasha dari Jerman, serta Dr. Gladys S. Carlos dari Filipina. Melalui pemaparan para narasumber, peserta memperoleh wawasan mengenai kebijakan, pendekatan pedagogis, serta strategi untuk menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas, ramah anak, dan inklusif.
Dalam pemaparannya, Dr. Minna Makihonko mengulas sistem Early Childhood Education and Care (ECEC) di Finlandia yang menekankan pengembangan kompetensi anak secara menyeluruh, pembelajaran berbasis bermain, dan pemenuhan kebutuhan individual setiap anak. Ia juga menjelaskan pentingnya perencanaan pendidikan anak usia dini yang disusun secara kolaboratif antara pendidik dan orang tua melalui Individual Early Childhood Education and Care Plan (Vasu). Pendekatan ini mendukung perkembangan anak secara holistik dengan memperhatikan potensi, kebutuhan, dan karakteristik masing-masing individu.
Sementara itu, Vicky Natasha membagikan perspektif pendidikan anak usia dini di Jerman melalui konsep “Bild vom Kind”, yaitu cara pandang yang menempatkan anak sebagai individu yang kompeten, memiliki potensi, dan mampu berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Ia menekankan pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk bermain secara bebas, mengambil keputusan, mengeksplorasi lingkungan, serta mengembangkan kemandirian. Selain itu, keterlibatan orang tua dan kolaborasi antara keluarga dengan pendidik menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan anak.
Vicky juga menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya dengan menempatkan anak dalam lingkungan pendidikan yang sama. Inklusi perlu diwujudkan melalui penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak merasa diterima, terlibat, dan memperoleh kesempatan berpartisipasi. Oleh karena itu, pendidik perlu memahami hambatan yang dihadapi anak serta mengembangkan pendekatan pembelajaran yang responsif terhadap keberagaman kebutuhan mereka.
Perspektif dari Filipina disampaikan oleh Dr. Gladys S. Carlos yang membahas perkembangan dan tantangan penerapan pendidikan inklusif di negaranya. Ia menjelaskan upaya pergeseran dari layanan yang memisahkan anak berkebutuhan khusus menuju integrasi anak dalam kelas reguler dengan dukungan yang sesuai. Kondisi geografis Filipina yang terdiri atas ribuan pulau menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan pendidikan. Dalam konteks tersebut, nilai “Bayanihan”, yang mencerminkan semangat gotong royong dan kolaborasi masyarakat, menjadi salah satu pendekatan penting untuk memperkuat dukungan komunitas terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif.
Kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan dan merefleksikan praktik pendidikan anak usia dini di berbagai negara, termasuk relevansinya dengan konteks pendidikan di Indonesia. Pertukaran gagasan tersebut membuka peluang untuk memperkaya perspektif akademik, memperluas pemahaman mengenai keberagaman sistem pendidikan, serta mengidentifikasi praktik-praktik yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Melalui penyelenggaraan International Webinar MPAD, Universitas Terbuka menegaskan pentingnya kolaborasi dan pertukaran pengetahuan lintas negara dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Pengalaman dari Finlandia, Jerman, dan Filipina menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini yang berkualitas perlu memperhatikan perkembangan anak secara menyeluruh, menghargai potensi dan keberagaman, melibatkan keluarga, serta membangun lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak berpartisipasi secara aktif.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat wawasan akademik mahasiswa, dosen, dan praktisi pendidikan anak usia dini, sekaligus menjadi inspirasi dalam mengembangkan praktik pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berpusat pada anak. Melalui forum akademik internasional seperti ini, Program Studi Magister Pendidikan Anak Usia Dini, Sekolah Pascasarjana, Universitas Terbuka, terus membuka ruang dialog dan kolaborasi untuk mendukung kemajuan pendidikan anak usia dini di tingkat nasional maupun internasional.

